Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kisah Sex Mani Ku Muncrati di Anus Meri

Kisah Sex Mani Ku Muncrati di Anus Meri

 Aopok.com - Arul, yang sangat tampan itu tak mungkin seorang penyuka sesama jenis, pikirku. Lagipula dia sudah memiliki pacar, seorang wanita yang sudah sejak SMU dipacarinya, namanya Vita. Vita yang sekarang masih duduk di bangku SMU kelas tiga itu memang cukup cantik dan juga ‘berharta’. Menurutku mereka memang pasangan yang serasi. Mereka sering bermesra-mesraan didepan ku dan anak-anak, terutama Vita yang terlihat sangat tergila-gila pada Arul.


Memang arul tidak begitu antusias meladeni manjaan-manjaan Vita saat aku berada bersama dengan mereka, tapi itu tidak membuktikan apakah dia.. Tapi tingkahnya itu memang menggangguku. Juga sikapnya yang lain, seperti saat kupergoki ia sedang mencuri pandang kearahku ia langsung melihat kearah lain. Jadi kujalankan siasat untuk mengetesnya perlahan-lahan.

“Rul, gue balik sama lo yah!, lo kan bawa motor, rumah gue deket kok dari rumah lo!” Tanyaku sambil memasang wajah memelas.
“Ayo aja, tapi bensin lo yang bayarin yah!” Jawabnya sambil tersenyum.
“Gampang deh, asal servisnya memuaskan itu sih bisa diatur.” Jawabku tersenyum.
“Nggak kok, cuma bercanda!” Tambahnya tersenyum.

Sekarang aku lagi diboncengnya, duduk di jok belakang ‘Ninja’ ini dan hanya beberapa sentimeter dibelakang pria tampan ini, tentu saja takkan kubiarkan saat ini berlalu begitu saja. Kadang saat ia mengerem, ku condongkan tubuhku kepunggungnya sehingga tubuhku menempel dengannya. Atau saat ia mengajak ngobrol, kudekatkan wajahku dekat helm ‘Skater’-nya. Saat-saat seperti itulah dimana aku bisa merasakan aroma tubuhnya, suara lembutnya dengan jelas bergetar ditelingaku juga desahan nafasnya dileher yang membuat bulu kudukku merinding.

“Udah Rul, udah nyampe!” Akhirnya keluar juga kata yang sebenarnya tak ingin kuucapkan
“O, jadi ini rumahmu, ternyata rumah lo tuh deket banget sama rumah gue!”
“Lo kan udah tau rumah gue, kenapa lo nggak pernah maen ke rumah gue?”
“Wah sombong banget nih kayaknya nggak mau maen ke rumah gue!” Tanyanya.
“Bukannya gitu, tapi.. Emm..” Dia saja yang tak tahu kalau, sebeentar saja aku didekatnya sudah deg-degan apalagi kalau lama-lama dan cuma berdua saja.
“Iya deh entar kapan-kapan.” Jawabku

“Udah entar malem aja lo ke rumah gue jam 8, ok!”
“Entar malam?”
“Iya, entar malam, bisa kan?”
“Ok deh eentar malem, jam 8.”
“Ya udah gue tunggu lo entar malem, awas kalau nggak dateng!”
“Ted, aku mau ke rumah temen gue dulu, ada perlu.” Ucapku.
“Tante mana?” Tanyaku.
“Lagi ke warung. Perginya lama nggak?” Tanyanya kemudian.
“Nggak lama kok.” Jawabku sambil berlalu.

Kini aku sudah berada tepat didepan pintu rumahnya. Kuketuk pintu rumahnya. Tok, tok, tok! Lanjut baca!


Heboh ABG vs Gigolo Bertarung Seks Anal

Heboh ABG vs Gigolo Bertarung Seks Anal

 Tradingan.com - Jam sebelas lebih sepuluh. Itu artinya, sudah hampir satu jam aku dibuat menunggu oleh Michael. Aku tak habis pikir, ini sudah yang ketiga kalinya aku melayani anak bos itu, dan tiap kali selalu saja ia datang telat dari janji yang dibuatnya sendiri. Kalau dibilang ia segan menemuiku, sangatlah tidak mungkin, mustahil, kami saling menyukai, dia menyukai tubuhku dan aku menyukai uangnya. Kalau ia kapok, ia pasti tak akan “memanggil”-ku lagi, apalagi sampai tiga kali.


Tapi sebagai seorang pekerja yang baik, aku memang harus siap menghadapi pelanggan semacam Michael, aku tak boleh banyak protes. Aku pun ingin bekerja secara “profesional” seperti apa yang sering didengungkan oleh orang-orang yang duduk di kantoran. Kurasa, profesionalisme bukan hanya milik sebagian orang saja, seorang pekerja seks-pun pasti akan lebih laris kalau ia bekerja secara profesional. Benar tidak? Karena itu, aku menurut saja ketika kemarin malam, Michael memintaku datang jam setengah sebelas di hotel ini, tempat kami biasa check-in sebelum ini, sebuah hotel yang sewa kamarnya saja mencapai tarif 600 ribu semalam.

“Sudah lama nunggunya?” tiba-tiba Michael menepuk pundakku dari belakang sampil tersenyum padaku, memamerkan kedua lesung pipinya yang luar biasa menawan.
Michael memang remaja yang ganteng, aku akui. Sekilas, orang tak akan menyangka kalau orientasi seks-nya lebih kepada sesama laki-laki daripada kepada lawan jenisnya. Kulitnya putih dan badannya bersih, belum lagi bodinya yang ramping dan penampilannya yang sangat cool. Tak berlebihan, jika aku lantas mulai menyukainya juga, meski sebelumnya aku tak pernah benar-benar menyukai laki-laki. Aku sebenarnya terlahir sebagai lelaki normal, namun mungkin karena profesiku inilah yang terkadang menuntutku untuk melakukan “kontak” dengan lelaki, yang pada akhirnya membuat orientasi “seks”-ku menjadi kacau.

“Yah, lumayan lama juga nunggunya. Hampir satu jam. Kenapa telat?” tanyaku seraya bangkit dari sofa di lobby hotel, tempat aku menunggu sejak satu jam yang lalu. Kami lantas berjalan beriringan mendekati meja resepsionis untuk selanjutnya menuju sebuah kamar di lantai tiga yang sudah di-booking Michael.

“Sorry, aku baru pulang clubbing.” sahut Michael sambil merangkulku. Sudah biasa, kalau remaja kota seumuran Michael yang masih kelas 2 SMU sering menghabiskan waktunya keluyuran bersama teman-temannya, ia selalu menyebutnya “clubbing”. Entahlah, apa saja yang mereka lakukan di luar sana, aku tak begitu peduli, lagipula itu bukan urusanku.

Ketika kami berdua menyusuri lorong lantai tiga, Michael tampaknya sudah mulai tak sabar melepaskan hasratnya, ia merangkulku lebih erat. Kali ini bukan di pundak, namun di pinggangku. Dan tangan kirinya yang mulai gatal, mengelus-elus perutku. Sesekali ia menciumi lengan dan leherku. Untung saja, lorong hotel itu begitu sepi dan tak ada, lanjut baca!


Cerita Ngentot Lisa di Double Suaminya 4

Cerita Ngentot Lisa di Double Suaminya 4

 Iklans.com - Lisa melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan bergerak naik ke tubuhku. Bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kusapukan lidahku pada bibir dan masuk dalam rongga mulutnya. Lidah kami kemudian saling memilin dan mengisap. Tanganku mengembara ke selangkangannya dan kemudian jari tengahku masuk menerobos liang kenikmatannya sampai menemukan tonjolan kecil di dinding atas sebelah depan. Lisa meremas dan mengocok penisku. Penisku semakin menegang dan mengeras.

“Ouououhhkk.. Nikmatnya.. Puaskan aku lagi,” ia memohon dengan suara tertahan.


Kemudian tangannya mengurut dan menggenggam erat penisku. Kurasakan pantat dan pinggulnya bergoyang menggesek penisku. Dan tanpa kesulitan kemudian kepala penisku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab dan licin. Kurasakan dinding guanya semakin berair membasahi penisku.

“Akhh Anto ayo kita sama-sama nikmati lagi.. Oukkhh”.

Kujilati lehernya dan bahunya. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang penisku sudah terbenam dalam vaginanya.

Lisa bergerak naik turun untuk mendapatkan kenikmatan. Kadang gerakan pantatnya berubah menjadi maju mundur. Gerakannya mulai dari perlahan menjadi cepat dan semakin cepat. Ia mengubah gerakannya menjadi ke kanan ke kiri dan berputar-putar. Pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala penisku berada di bibir guanya dan kemudian berkontraksi mengurut kepala penisku. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku seperti diremas dan diurut.

Ia menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala penisku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang penisku tenggelam seluruhnya. Ketika batang penisku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya berat dan terputus-putus.

Kuisap putingnya yang sudah keras. Gerakannya semakin liar dan cepat. Tanganku memeluk punggungnya dengan erat sehingga tuuh kami semakin merapat. Ia juga memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas sampai kemaluanku hampir terlepas, dan ia menurunkan lagi dengan cepat dan kusambut dengan gerakan pantatku ke atas. Kembali penisku menembus guanya. Ia merinding dan menggelepar. Tangannya meremas rambutku, memukul dan mencakar dadaku. Punggungnya melengkung ke atas menahan rasa nikmat. Mulutnya meracau, mendesah dan mengerang dengan kata-kata yang tidak jelas.

“Anto.. Ouhh Anto, aku mau dapat, aku tidak tahan mau kelu.. Ar,” desahnya.

Aku semakin keras menyodok vaginanya dari bawah. Aku belum ingin keluar, tetapi biarlah ia kuberikan babak tambahan

“Sshh.. Shh.. Anto sekarang ouhh.. Sekarang” ia memekik. Tubuhnya mengeras, merapat di atasku dan kakinya membelit betisku. Pantatnya ditekan ke bawah dengan keras dan vaginanya menjadi sangat basah hingga terasa licin.

Tubuh Lisa mulai melemas. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang tetap dibiarkan di dalam vaginanya.

“Terima kasih. Ini yang kucari. Kau sungguh jantan sekali. Aku puas denganmu. Berikan aku istirahat sebentar, lalu..,” ia berbisik di telingaku.

Kusambar bibirnya dengan bibirku dan kugulingkan ke samping. Penisku yang belum menuntaskan tugasnya tentu saja masih keras dan siap masuk dalam babak tambahan. Lanjut baca!


Cerita Ngentot Lisa di Lihatin Suaminya 3

Cerita Ngentot Lisa di Lihatin Suaminya 3

 Topoin.com - Tangannya membuat beberapa gerakan dan gaun tidur yang dikenakannya sudah merosot ke pinggangnya. Tangannya kemudian membuka BH-nya dan menyodorkan dadanya ke depan mukaku. Tanpa menunggu lagi aku langsung meremas payudaranya dengan penuh nafsu. Payudaranya berbentuk bulat dan terasa kencang seperti milik gadis dua puluh tahunan. Tangannya kemudian membuka kausku. Aku menciumi payudaranya dan menghisap putingnya yang berwarna coklat muda dan mulai mengeras. Tangan Lisa membelai rambutku sambil sesekali mendekap kepalaku ke payudaranya.

Aku menggunakan jariku untuk membelai daerah selangkangannya, dan jariku juga mulai menekan terutama di belahan vaginanya. Tangan Lisa menggesek penisku yang semakin mengeras.


“Aah.. To.. Sss.. Enak.. Teruss.. Anto.. Ahh”

Mendengar erangan Lisa nafsuku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku merebahkan diri sambil menciumi leher Lisa dan terus naik ke bibirnya. Kubuka celana panjang dan kemudian celana dalamku. Aku terus menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Badanku yang besar seolah-olah menenggelamkan badannya yang kecil mungil. Sambil mendesah Lisa berkata.

“Ahh.. Awas kalau keluar duluan lagi..”

Kulepaskan gaun tidur dan sekaligus dengan celana dalamnya.

“Akhh..” ia meronta-ronta dengan pelan.

Kami saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tidak teratur. Kaki Lisa menjepit pinggangku Aku menciumi leher kemudian turun ke payudaranya, aku sedot putingnya sampai mengeluarkan bunyi. Kemudian bibirku turun dan menggelitik pusarnya. Lisa tidak tahan dengan perlakuanku, badannya bergerak-gerak tak teratur menahan gel.

“Anto.. Akh.. Geli akh.. Basah..”.

Aku terus menciumi perutnya, lalu turun dan saat sampai di depan selangkangannya aku menurunkan kepalaku, menjilati paha dan sesekali menggigitnya. Lisa mengganjal kepalanya dengan bantal dan mengamatiku. Ketika mulutku mulai menyapu vaginanya ia menekan kepalaku dan menjepit dengan pahanya.

Kuusap betisnya yang tertutup stocking hitam. Sudah lama aku memiliki fantasi bercinta dengan wanita yang memakai stocking. Kini obsesiku terpenuhi. Kugelitik klitorisnya dengan lidahku. Ia mengejang lembut dan dinding vaginanya ikut berdenyut bereaksi menyambut aksi lidahku. Jari tengah kananku kumasukkan ke dalam saluran vaginanya dan ujungnya kugerak-gerakkan menggelitik dinding rahimnya. Ia semakin keras mengerang. Tangannya meremas tepi spring bed di atas kepalanya.

“Anto.. Sudah To. Cukup.. Sudah, aku menyerah.. Ayo.. Cepat masukkan.. Lakukan sekarang.. Ouuhh,”

Kuhentikan rangsangan pada vaginanya dan aku bergerak menindihnya. Penisku kuarahkan ke vaginanya yang basah, kutekan perlahan dan ketika kepalanya sudah masuk seluruhnya maka aku menekan pantatku dengan keras.

“Sshh.. Akhh.. Terus To.. Akh..”, Lisa merintih

Bibir kami saling bertautan dengan kuat. Ketika kulepaskan ciumanku maka justru bibirnya mencari-cari bibirku. Mulutnya setengah terbuka sambil mendesis-desis. Aku menggerakkan penisku dengan perlahan dan sesekali dengan tempo cepat. Rasanya penisku dijepit dan diremas-remas oleh tangan yang kuat membuat penisku rasanya akan meledak.

Aku terus memompa penisku di vaginanya dengan tempo yang bertambah cepat. Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas dan kupencet sehingga putingnya menonjol. Kujilati putingnya dan kugigit-gigit dengan bibirku. Aku menghentak tubuh Lisa ke ranjang dengan kasar saat pinggulnya membuat gerakan memutar.

“Lisaa.. Lis.. Akh.. Ouch.. Akh..”. Wajib baca!


Cerita Ngentot Lisa di Kamar Suaminya 2

Cerita Ngentot Lisa di Kamar Suaminya 2

 Tradingan.com - Suasana camp mulai terasa ramai karena mendekati perayaan tujuh belasan. Biasanya jika tiba perayaan tujuh belasan maka warga kampung berbaur dengan karyawan campku dan perusahaan kayu di dekat sini untuk melaksanakan berbagai pertandingan.

Aku ikut bertanding dalam beberapa cabang olahraga. Hanya sekedar untuk memeriahkan dan bersenang-senang saja. Sore itu aku baru menyelesaikan satu partai tenis meja. Untuk pertandingan tenis meja dilakukan di dalam ruangan kantor agar tidak terganggu oleh tiupan angin. Meja-meja yang ada cukup ditumpuk di pinggir. Aku kalah straight set, 15-21 dan 10-21. Cukup lumayan setelah lima tahun lebih tidak pernah bermain. Kubuka bajuku dan dengan bertelanjang dada aku menyaksikan partai berikutnya.


Kulihat Lisa juga ada di antara para penonton. Dengan beringsut perlahan-lahan ia berpindah di dekatku. Ia mengenakan baju hitam tipis tanpa kancing dan lengan dipadu celana panjang strecth warna pastel. Bayangan BH-nya yang berwarna putih samar-samar kulihat di balik baju hitamnya yang tipis.

“Hebat juga Bapak kita ini. Mau ikut maju untuk pertandingan kelas kampung,” komentarnya.
“Ah, Cuma sekedar berpartisipasi saja kok,” kataku.
“Bapaknya mana, beberapa hari ini kok nggak kelihatan?”

Terakhir aku melihatnya seminggu yang lalu ketika mengambil uang muka pekerjaan borongan.

“Lagi ke kota. Beli beberapa peralatan untuk tenaga kerja. Ryan juga ikut. Ijin tidak masuk sekolah beberapa hari”.

Entah apa maksudnya mengatakan kalau ia sendirian di rumah. Apakah ini sebuah undangan lagi?

“Kapan pulangnya?” tanyaku meyakinkan.
“Mungkin nanti malam menjelang dinihari. Biasanya kapal dari hilir masuk ke sini antara jam dua belas sampai jam tiga dinihari”.

Lisa menatapku dengan sorot mata kagum. Badanku cukup besar meskipun tidak kekar. Mungkin ia kagum dengan bulu dadaku yang cukup lebat ini. Karena sudah sore dan keringatku sudah tuntas aku pulang ke mess dan berniat untuk mandi. Lisa mengikuti beberapa langkah di belakangku dan ketika aku sampai di depan mess Lisa memanggilku.

“Ssstt.. Pak, Pak Anto,” bisiknya. Aku menoleh. Ia memberikan kode dengan mulutnya agar aku ke rumahnya sekarang. Aku masuk ke dalam kamar, berganti dengan celana pendek dan kaus lalu ke kamar mandi. Kulihat Lisa sudah menunggu di depan rumahnya. Ia melambaikan tangan dan memberikan isyarat agar aku masuk ke rumahnya lewat pintu belakang.

Kutimbang-timbang dan kali ini kurasa keadaan di dalam rumahnya cukup aman. Tinggal berusaha agar tidak ketahuan karyawan camp. Kubuka pintu belakang mess dengan pelan. Dengan mengendap-endap aku berjalan ke arah belakang rumahnya. Ia sudah menunggu di pintu belakang rumahnya. Dengan cepat aku menyelinap masuk ke ruang tamunya.

“Duduk dulu To,” ia menyuruhku duduk di kursi tamu. Ia sudah mulai memanggilku tanpa sebuta.
“Pak”.

Aku duduk di atas sofa ruang tamunya. Debaran jantungku terasa kencang, perpaduan antara nafsu dan perasaan takut ketahuan. Lisa mengeluarkan kepalanya dari pintu depan, mengamat-amati sekitarnya. Lanjut baca!


Cerita Ngentot Lisa di Depan Suaminya 1

Cerita Ngentot Lisa di Depan Suaminya 1

 Aopok.com - Mulai bulan ini aku mendapat tugas ke lapangan di Pulau Kalimantan untuk menjadi care taker site manager untuk proyek pembuatan jalan propinsi. Site manager yang lama terkena kasus penggelapan uang perusahaan dan sudah diselesaikan secara intern perusahaan. Sebenarnya aku belum terlalu pas untuk posisi ini. Namun karena sudah tidak ada lagi person yang bisa dan siap dikirim, maka akhirnya pilihan itu jatuh kepadaku. Aku harus mengepalai dan mengatur segala sesuatu di lapangan sampai perusahaan mendapatkan orang yang cocok untuk menduduki posisi ini.

Sudah dua minggu aku di lapangan. Rasanya enjoy saja. Hitung-hitung refreshing melepaskan diri dari kesibukan dan rutinitas Jakarta. Lokasi camp tidak jauh dari kampung terdekat, hanya sekitar 500 m. Camp kami terdiri dari kurang lebih tigapuluh barak untuk keluarga dan bujangan. Sebenarnya aku mempunyai hak untuk menempati mess Direksi. Namun karena sepi tidak ada teman, maka aku lebih banyak tidur di mess bujangan. Dari delapan kamar hanya ada sekitar lima orang yang tidur secara tetap di mess bujangan. Aku mengambil kamar paling belakang.


Di belakang mess bujangan terdapat rumah seorang warga yang menjadi sub kontraktor untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan tenaga manusia. Kami biasa memanggilnya dengan nama Pak Joko. Aliran listrik di rumah Pak Joko mengambil dari aliran listrik camp. Aku belum pernah melihat istrinya dari dekat, namun kulihat sekilas ia bertubuh kecil dan berkulit putih bersih.

Untuk mengisi waktu senggang dan membunuh rasa sepi maka hampir tiap malam aku ada di kantor ditemani dengan radio dua meteran. Mulanya agak canggung, namun kemudian asyik juga rasanya bisa berkomunikasi dengan breaker lokal di sana. Kalau sudah bosan nge-break paling-paling nonton televisi. Tidak ada hiburan lainnya. Ibukota propinsi jaraknya kurang lebih 300 km dari site.

Suatu malam ketika aku sedang cuap-cuap di depan radio, tiba-tiba ada suara wanita yang menyela masuk dan kemudian mengajakku berpindah jalur. Setelah berpamitan dengan warga yang masih aktif kamipun berpindah ke frekuensi yang ditentukannya.

“Malam, Ageng,” suara wanita tadi menyapaku. Aku menggunakan nama Ageng untuk nge-break di sini. Aku pilih nama itu asal saja, karena enak didengar dan mudah diingat. Tidak ada maksud tertentu.
“Malam, ini siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Penasaran ya? Ini Lisa,” ia menjawab.
“Kalau boleh tahu Lisa posisi di mana?”
“Seputaran Camp..”. Ia menyebutkan camp tempatku berada.

Aku semakin penasaran, tetapi ia tetap tidak mau menyebutkan lokasi persisnya di deretan camp yang sebelah mana. Beberapa karyawan camp memang dibekali dengan HT untuk memudahkan komunikasi jika mereka sedang bekerja di lapangan. Aku berpikir jangan-jangan Lisa ini istri salah seorang karyawan camp. Aku tidak berani berbicara yang nyerempet-nyerempet, malu khan kalau ia benar-benar istri karyawan di sini.

“Kok namanya Ageng. Apanya yang ‘ageng’?” ia berbisik. Ageng artinya besar. Suaranya sengaja didesahkan. Busyet!! Justru ia yang mulai menggodaku. Aku tidak mau menanggapi sebelum tahu persis siapa Lisa ini.
“Udahan ya, udah malam. Aku mau nonton TV dulu. Cherio.. Dan 73-88,” kataku sambil memutar tombol power ke posisi off. Sekilas sebelum pesawat mati sepenuhnya kudengar Lisa berteriak”Ageng, tunggu du..”.

Dari kantor aku berjalan kurang lebih 200 m untuk sampai di mess bujangan. Sebelum masuk ke kamar sekilas kudengar dari rumah Pak Joko suara wanita sedang nge-break. Atau jangan-jangan..! Ah sudahlah. Aku sudah mengantuk dan esok pagi aku harus masuk ke lapangan untuk melihat konstruksi jembatan yang sedang dikerjakan.

Beberapa malam kemudian di udara Lisa masih juga menggodaku dengan nada suara yang dibuat-buat dan kata-kata yang konotatif. Aku tak tahan memendam penasaranku. Esoknya akhirnya aku bertanya pada Pak Dan seorang karyawan yang memegang HT. Wajib baca!


Kisah Ngentot Lobang Anal Sepupu Istriku

Kisah Ngentot Lobang Anal Sepupu Istriku

 Topoin.com - Hai, Namaku Roy umurku sekitar 35, aku telah beristeri dan mempunyai seorang anak. Semasa ku masih bujang aku sering mempunyai hubungan dengan isteri orang. Aku gemarkan isteri orang kerana pengalaman merka dan aku tidak perlu takut jika mereka hamil atas perbuatanku. O ya sebenarnya aku dari Malaysia.

Aku kini bertugas sebagai ketua (Pengurus) Di sebuah perusahaan Swasta. Selepas bertunang dengan isteriku disuatu majlis keluarga (pihak isteri) aku terlihat sepupu isteriku bersama tunangannya. Pada pandangan pertama itu aku terus tertarik kepadanya. Usianya ketika itu sekitar 23 tahun masih lagi kuliah. Namun ku pendamkan saja hasratku kerana aku juga cinta pada isteriku. 



Setelahku bernikah sepupu isteriku juga bernikah tidak lama kemudian. Aku sering membayangkan melakukan hubungan seks dengan sepupu isteri (namanya Linda). Ketika aku bersenggama dengan isteriku aku membayangkan aku bersama Linda. Sosok tubuhnya indah, kulitnya putih mulus, payu daranya besar tapi aku tidak berpeluang memilikinya. Aku hanya bisa mengangan-angankan saja. Aku terus berangan-angan selama dua tahun.

Pada suatu ketika, sekritariku mohon berhenti dan jawatan itu kekosongan. Kebetulan pula Linda butuh pekerjaan dan aku terus menawarkan jawtan itu kepadanya. Tanpa banyak bicara dia menerima jawatan itu dan kini dia bekerja dibawah tanganku. Impian ku untuk memiliki tubuhnya kian mekar kerana setiap hari aku pasti melihatnya namun aku masih lagi mencari peluang bagai mana bisa aku menidurinya.

Pada suatu hari aku mendapat tugas untuk keluar kota kerena ada janji dengan pelanggan. Aku lantas meminta Linda untuk ikut bersamaku. Isteri tidak merasa apa-apa kerana Linda adalah sepupunya dan telah berkahwin. Aku menjalankan rancanganku. Aku menempah hanya satu kamar hotel dan memberi alasan bahwa hotel itu telah penuh. Pada mulanya Linda agak keberatan namun aku memujuknya dan mengatakan yang dia bisa tidur di atas katil dan aku pula bisa tidur di sofa.

Setelah mendaftar masuk ke hotel itu, aku terus kekamar mandi sementara Linda mengeluarkan pakaiannya untuk disimpan dalam almari. Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai towel. Aku sengaja mahu menunjukkan susuk tubuh ku kepadanya. Linda melihatku kaget lantas dia memalingkan mukanya dari ku kerana malu. Aku terus berpakaian dan mengatakan aku ingin keluar sebentar dan menyuruhnya mandi. Lantas aku pun keluar. Lebih kurang lima belas menit aku kembali ke kamar. 

Apabila aku membuka pintu kamar kelihatan Linda baru keluar dari kamar mandi dan hanya memakai towel dari dada hingga ke pantatnya. Aku jadi tertegun melihat keindahan tubuhnya dengan payudaranya membengkak besar dan indah sekali. Kemudian ku lihat pantatnya yang bulat indah dan kelihatan vaginanya yang montok ketika dia membungkuk membelakangi ku.

Linda kaget dengan kehadiharanku tiba-tiba itu. Dia cuba lari kembali ke kamar mandi. Kebetulan aku berada di pintu kamar mandi dan dia terus ke dakapanku. Linda jadi kaku dalam dakapan ku. Aku dapat merasakan kelembutan payudaranya menyentuh dadaku dan terus seperti aliran listrik menjalar ketubuh ku. Nafasku terus tersekat-sekat ku lihat Linda memandang muka ku seperti minta di lepaskan. Aku terus mengucupi bibirnya yang munggil lalu menghisap-hisap lidah. Linda cuba menolak tubuhku tapi ku eratkan dakapanku. Wajib baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia